Usia 7 sampai 10 tahun

Usia 7 sampai 10 tahun

Anak usia ini mulai memahami dan mengunakan konsep. Maka konsep kejujuran mulai dapat diajarkan, demikian juga konsep tentang ketidakjujuran dan akibatnya. Hati nurani anak mulai terbentuk dan anak mulai mengetahui tentang baik buruknya sebuah perbuatan. Cara berpikirnya masih sangat terbatas terhadap perbuatan yang nyata (konkret) dan anak belum sanggup melihat dari sudut pandang orang lain. Mengajari anak tentang kejujuran dalam fase ini selain dengan peneladanan dan penguatan positif dan negatif, juga melalui cerita dan kasus nyata yang dapat dibayangkan anak. Lalu ditanyakan apa akibatnya dari perbuatan tidak jujur orang tersebut. Pada usia ini motivasi untuk melakukan hal yang baik sudah harus berpindah dari menyenangkan orang tua, kepada alasan bahwa melakukan perbuatan baik membawa rasa senang dan damai pada diri sendiri, karena sesuai dengan hati nuraninya.

  1. Usia 11 sampai 13 tahun

Pada usia ini, anak sudah mulai dapat berpikir kearah abstrak dan sanggup melihat dari sudut pandang orang lain. Ia sudah dapat membedakan motivasi yang ada dibelakang sebuah perbuatan dan dapat mempertimbangkan perbuatan dari segi motivasi atau niat itu.

Usia 13 sampai dewasa

Remaja dan pemuda telah sanggup berpikir abstrak dan membuat hipotesa. Mereka mempunyai standar tentang yang baik atau buruk perbuatan dari diri mereka sendiri. Pada usia ini tingkah laku moral yang sesungguhnya baru timbul. Masa ini perlu digunakan baik-baik untuk menanamkan kesanggupan berpikir mandiri dan bertanggung jawab dalam membuat penalaran moral. Para remaja sanggup menginterpretasi penilaian moral dan menjadikannya sebagai nilai pribadi. Dari penelitian diketahui bahwa perkembangan mempribadikan konsep(internalisasi) terjadi melalui identifikasi dengan tokoh yang dianggap sebagai contoh atau model (hero worship).

Sampai sekarang tidak sedikit orang yang meyakini bahwa nilai itu berkembang dan dibina di sekitar keluarga, karena hubungan Insani antara orang tua dengan anak di keluarga sangat dekat sehingga memungkinkan terjadinya pewarisan nilai yang insentif dalam setiap aktivitasnya, baik melalui sikap dan perbuatan maupun pemikiran.

Orang tua hanya memiliki waktu yang sedikit seharinya untuk berdialog secara bermakna dengan anaknya Akibatnya, menurut Louls Raths  (1978), kesempatan mendiskusikan kegiatan-kegiatan harian yang bermakna itu hilang. Akhirnya, anak akan menerima dan menginternalisasi nilai dari luar, salah satu diantaranya dari teman-teman sebaya.

Pergaulan dengan teman sebaya akan menambah pembendaharaan informasi yang akhirnya akan memengaruhi berbagai jenis kepercayaan yang dimiliki oleh anak.Kumpulan kepercayaan yang dimiliki oleh anak akan membentuk sikap yang mendorong untuk memilih atau menolak sesuatu. Informasi, sikap dan kebiasaan teman sebaya sangat kuat pengaruhnya karena diantara mereka relatif lebih terbuka dan intensitas pergaulannya relatif sering, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Kelompok sebaya mempunyai aturan main sendiri, dan anak cenderung menyesuaikan diri dengan aturan main tersebut dengan harapan agar diterima oleh kelompoknya. Jika nilai yang disampaikan teman sebaya tersebut negatif akan membiaskan internalisasi nilai-nilai luhur yang seharusnya mereka miliki.

Di samping itu, tokoh politik, selebritis, dan para pejabat publik merupakan salah satu bagian masyarakat yang dapat memengaruhi perilaku anak. Masing-masing figur dapat menawarkan nilai yang berbeda, bahkan tidak jarang perilaku yang diperlihatkan bertentangan dengan nilai-nilai luhur moralitas bangsa. Persoalan ini menambah kebingungan anak. Kebingungan anak terhadap nilai, diperluas dengan derasnya arus informasi dari media komunikasi.

Baca juga: