sebutkan tugas hizbullah sebagai pemuda islam

TUGAS HIZBULLAH

Hizbullah dalam menjalankan tugasnya memiliki dua tugas yaitu sebagai tentara cadangan pemerintah Jepang dan juga sebagai pemuda Islam itu sendiri. Adapun tugasnya sebagai tentara cadangan Jepang ialah :
· Membantu tentara Dai Nippon.
· Melatih diri, jasmani dan rohani dengan segiat – giatnya.
· Menjaga bahaya udara dan mengintai mata – mata musuh.
· Menggiatkan dan menguatkan usaha – usaha untuk kepentingan perang.
Sedangkan dengan tidak melupakan jati diri sebagai pemuda Islam hizbullah memiliki tugas sebaga berikut :
· Membela agama dan umat Islam di Indonesia.
· Menyiarkan agama Islam.
· Memimpin umat Islam untuk taat beragama.

 

D. PERAN SERTA HIZBULLAH BAGI INDONESIA

1. Merebut Yogyakarta dari kekuasaan Jepang.
Setelah Republik Indonesia merdeka, segera di Yogjyakarta dibentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) yang diketuai oleh Muhammad Saleh, dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang diketuai oleh Sudarsono dari polisi. Selain itu sebelum adanya ketentuan resmi penataan badan perjuangan maka BKR berperan sebagai coordinator.
Oleh karena itu, ketika masyarakat Yogyakarta akan merebut kekuasaan dari tangan Jepang, maka diadakan koordinasi antara KNI, BKR, Hizbullah dan lasykar lainnya. Mereka berusaha melakukan perundingan dengan pihak Jepang namun mengalami jalan buntu. Maka kemudian diputuskan untuk merebut kekuasan Jepang atas Yogyakarta dengan jalan perang. Hizbullah daerah Yogyakarta mengerahkan pasukannya dan bergabung dengan BKR, polisi, dan lasykar lainnya. Pertama kali merebut kantor KOOTI, kemudian merebut markas dan gudang senjata Jepang Buta Itjo di Kota Baru.
Dalam pertempuran di Kota Baru itu gugur dari pihak Indonesia sebanyak 21 orang dan 32 orang luka-luka. Di antara yang gugur itu terdapat 3 orang dari Hizbullah, yaitu Abu Bakar Ali, Wardani, dan Ahmad Djazuli. Mereka dikuburkan di makam Syuhada’ barat Masjid Gedhe kauman Yogyakarta. Sedangkan sebagai monumen perang di Kota Baru dibangun Masjid Syuhada’.[2]
2. Perang Mempertahankan Kemerdekaan RI
a. Pertempuran 10 November 1945
Peristiwa pertempuran 10 November 1945 terjadi di kota Surabaya yang hingga kini kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Pertempuran tercetus sebagai akibat dari terbunuhnya Gubernur Jenderal Inggris yaitu A.W.S Mallaby dalam insiden baku tembak dengan rakyat Surabaya. Sehingga pihak Inggris tidak terima dan mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerahkan diri dan senjatanya. Apabila tidak diindahkan maka Surabaya akan digempur dari darat, laut dan udara. Rakyat Surabaya pada saat itu memilih menentang ultimatum tersebut.
Melihat situasi yang berkembang semacam itu, K.H. Hasyim Asy’ariy mengundang para ulama yang tergabung dalam Nahdatul Ulama dari seluruh Pulau Jawa dan Madura untuk berkumpul di Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945. Ketokohannya sebagai ketua Masyumi dan sekaligus menjadi sosok sentral Nahdlatul Ulama memungkinkan beliau untuk memperoleh dukungan kekuatan dari berbagai elemen umat Islam pada masa itu. Hasilnya, para tokoh yang berkumpul akan menggerakkan umat untuk siap sedia berjihad mempertahankan kemerdekaan. Kesepahaman itu kemudian melahirkan sebuah fatwa yang dikenal dengan sebutan Resolusi Jihad. Pada bagian inilah akhirnya Barisan Sabilillah (Ulama’) dan Barisan Hizbullah memiliki peran besar untuk mengkoordinasikan kekuatan rakyat dalam perjuangan. Pada saat itu barisan Hizbullah yang berkiprah adalah pimpinan dari Moestopo.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/