Peran Keluarga Dalam Pembudayaan Perilaku Antikorupsi

Peran Keluarga Dalam Pembudayaan Perilaku Antikorupsi

Pada usia anak-anak, keluarga  mempunyai andil yang besar untuk memberi pesan moral.  Keberhasilan anak tidak hanya diukur dari tinggi rendahnya nilai, akan tetapi juga kejujuran, akhlak atau budi pekerti yang dimiliki.

Upaya pemberantasan korupsi dalam jangka panjang akan menuai keberhasilan apabila dilakukan dengan kombinasi antara represif, preventif dan edukatif secara integral.

Orang tua, meski bukan guru, semestinya juga seorang pendidik dan pembimbing bagi anak-anaknya. Tidak banyak orangtua yang menyadari hal itu, tetapi secara alamiah mereka pun akan menjadi pendidik dan pembimbing, karena para orangtua bertanggung jawab atas perkembangan keturunan mereka. Tumbuhnya watak pendidik(educator) dalam diri orang tua memang bersifat relatif. Ada orang yang menonjol(explicite)dalam sifat tersebut, ada pula yang tidak memperlihatkan sifat-sifat(implisite) pendidiknya, sekalipun sebenarnya memiliki potensi cukup besar, misalnya dilihat dari sudut jenjang pendidikan, ragam pekerjaan, dan tanggung jawab atas generasi penerus. Untuk menumbuhkan kemampuan mendidik ini, seseorang harus memiliki kesadaran yang tinggi sekaligus pengalaman hidup yang luas, dan bersedia untuk senantiasa selalu bersinggungan dengan masalah-masalah di sekitarnya. Pendidik memiliki sifat universal. Karena tanggung jawabnya, pendidik juga memiliki akses langsung terhadap bidang-bidang lain seperti manajemen (managerial) dan kepemimpinan (leadership). Menjadi pendidik, pemimpin dan guru, merupakan suatu proses berlanjut yang menempatkan pribadi manusia dalam satu hamparan kontinum menuju kesempurnaan hidup. Pendidik dan pemimpin adalah basis atau dasar bagi pembentukan konsep guru dan manager.

Pendidik dan pemimpin tampaknya harus memiliki sejumlah atribut yang muncul dari tempat di mana dia berada, yakni atribut yang lekat dengan peran yang dimainkan dalam proses pembudayaan dalam masyarakatnya. Pendidik dan pemimpin dengan begitu tumbuh dari kesadaran dari proses pendidikan yang secara informal dialami oleh manusia sepanjang hayatnya. Ia belajar tidak dari lembaga pendidikan formal tetapi dari lembaran-lembaran hidup yang telah dialaminya terus menerus. Apabila dicermati dari beberapa unsur kajian yang ada, yaitu posisi sosial, lingkar kekuasaan yang dirasakan, atribut, dominasi kekuatan, peran yang dimainkan, dan sumber kekuasaan, maka pendidik adalah manusia yang memiliki fungsi utama dalam dirinya untuk membudayakan secara konkret potensi yang ada, demi kepentingan bersama. Pendidik adalah manusia yang berhubungan dengan hati nurani, memiliki kesadaran budaya, dan memiliki aktualitas diri yang tinggi untuk menjadi (to-be) sekaligus memiliki (to-have).

Proses perkembangan moral adalah proses perkembangan otak. Karena itu perkembangan moral berhubungan erat dengan perkembangan kognitif seseorangAnak-anak dan remaja membentuk pemikiran moral mereka seiring dengan perkembangan mereka dari tahap yang satu ke tahap berikutnya, dan bukan hanya bersikap pasif dengan menerima saja moralitas suatu kebudayaan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Usia 2 sampai 7 tahun

Dari penyelidikan diketahui bahwa anak diantara usia 2-7 tahun belum mampu membuat pertimbangan-pertimbangan tentang baik atau buruk suatu perbuatan. Mereka patuh untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, tujuannya untuk menyenangkan orang tua dan mendapat pujian, serta tidak melakukan suatu perbuatan yang dilarang adalah karena takut akan hukuman. Mengajar anak kejujuran dalam fase ini dapat dilakukan terutama melalui penguatan positif terhadap kejujuran, dengan memuji dan menghargai perbuatan jujurnya dan penguatan negatif terhadap perbuatan tidak jujur dengan mencela dan menghukum perbuatan tidak jujur serta mengajar melalui peneladanan oleh orang tua atau guru.

https://movistarnext.com/