Pengertian Ihya’ Al-Mawat

Pengertian Ihya’ Al-Mawat

Kata ihya’ al-mawat terdiri dari dua kata yaitu ihya’ menghidupkan dan al-mawat sesuatu yang mati, yang berarti ihya’ al-mawat menurut bahasa diartikan menghidupkan sesuatu yang mati. Menurut Abu Bakar IbnKhusen al-Kasynawi al-mawat itu adalah tanah yang tidak ada pemiliknya dan tidak ada yang memanfaatkannya.[1] Al-Rafi’i mendefinisikan al-mawat dengan tanah yang tidak ada pemiliknya dan tidak ada yang memanfaatkannya seorangpun.

Dengan kata lain, menghidupkan tanah mati adalah memanfaatkan tanah untuk keperluan apa pun, sehingga bisa menghidupkannya yakni dengan adanya usaha seseorang untuk menghidupkan tanah, berarti usaha orang tadi telah menjadikan tanah tersebut miliknya.

Menurut Sulaiman Rasjid ihya’ al-mawat adalah membuka tanah baru yakni tanah yang belum dikerjakan oleh siapa pun, berarti tanah itu tidak dimiliki oleh seorang atau tidak diketahui pemiliknya.[2] Idris Ahmad mendefinisikan ihya’ al-mawat dengan memanfaatkan tanah kosong untuk dijadikan kebun sawah dan yang lainnya.[3]

Menurut ulama’ Syafi’iyah adalah:

اصلاح الارض ما لم يكون عامرا ولا حريما لعامر قريب من العامراو بعد

Artinya : Penggarapan tanah atau lahan yang belum digarap orang lain, dan lahan itu jauh dari  pemukiman maupun dekat.

Dari pengertian di atas jika diperluas maknanya menunjukkan bahwa ihya’ al-mawat adalah penggarapan lahan kosong yang belum diolah dan belum dimiliki seseorang untuk dijadikan lahan produktif, baik sebagai lahan pertanian maupun mendirikan bangunan, “pengertian tersebut mengisyaratkan bahwa yang menjadikan sebab seseorang bisa memiliki sebidang tanah, manakala tanah itu kosong, belum diolah dan belum dimiliki seseorang”.[4]

Al-qur’an tidak memberikan penjelasan tentang ihya’ al-mawat secara jelas dan rinci. Al-qur’an hanya mengungkapkan secara umum tentang keharusan bertebaran di atas bumi untuk mencari karunia Allah sebagaimana terdapat dalam surat al-Jumu’ah ayat 10.

Sumber :

https://littlehorribles.com/