Historiografi dan Empirisme Leopold von Ranke

Leopold von Ranke

Leopold von Ranke (12 Desember 1795 – 23 Mei 1886) adalah salahsatu tokoh sejarah yang berpengaruh, dia dijuluki sebagai Bapak Sejarah Modern. Walau, tidak menciptakan catatan kaki, atau konsep sumber primer, penelitian arsipnya bersifat revolusioner dalam implikasinya.

Minat keilmuan Ranke pada awalnya bukanlah dalam bidang sejarah, melainkan dalam bidang yang menjadi jurusannya ketika masih kuliah yaitu ilmu bahasa, penterjemahan, dan penguraian teks-teks lama. Akan tetapi, bidang-bidang tersebut telah memberi landasan serta dorongan yang kuat untuk terjun dalam bidang sejarah.

Ranke pernah berujar : “Untuk mencapai apa pun dalam sejarah ada tiga persyaratan: pemahaman yang baik tentang orang, keberanian, dan kejujuran. Yang pertama, hanya untuk memahami hal-hal; yang kedua, tidak terkejut pada apa yang ditemukan di sana, dan yang ketiga, tidak menyembunyikan secara khusus, bahkan pada diri sendiri. Jadi, kualitas moral yang paling sederhana berlaku, bahkan dalam sains. ”

Buku-bukunya pada akhir abad 18 dan awal abad 19 seperti “Die deutschen Mächte und der Fürstenbund, 1871–72; Ursprung und Beginn der Revolutionskriege 1791 und 1792,(1875); Hardenberg und die Geschichte des preussischen Staates von 1793 bis 1813”, (1877) menunjukkan secara halus peristiwa-peristiwa politik yang rumit tetapi ia hanya membahas secara tidak langsung masalah-masalah pokok dari suatu peristiwa yang berubah. Buku-buku ini menunjukkan bias tertentu terhadap perubahan politik dan sosial, terutama munculnya gerakan radikal.

Buah Pemikiran

“Ranke mungkin adalah sejarawan paling penting untuk membentuk profesi sejarawan seperti yang muncul di Eropa dan Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Ia mampu menerapkan metode pengajaran yang berfokus pada penelitian arsip dan analisis dokumen sejarah. Membangun metode Göttingen School of History, Ranke menetapkan standar untuk banyak tulisan sejarah kemudian, memperkenalkan ide-ide seperti ketergantungan pada sumber-sumber primer (empirisme) dan penekanan pada sejarah narasi.

Sejarah dianggap sebagai proses kompleks “kehidupan historis,” yang mengasumsikan bentuk “spiritual” -nya yang paling efektif di negara-negara besar dan ketegangan mereka. Sejarawan, seobyektif mungkin, harus menggambarkan “bagaimana sebenarnya,” menjaga seluruh gambar dalam pikiran saat mengekstraksi esensi. Jadi, Ranke bukan seorang analis tetapi seorang historiografer “visual”. Menyadari keterbatasan yang dikenakan oleh waktu dan tempat pada setiap sejarawan, ia berusaha untuk mencapai obyektifitas maksimum terutama dengan mengidentifikasi dirinya tidak dengan “pesta” tetapi dengan negara. Namun karyanya menunjukkan bahwa kredibilitas intelektualnya memengaruhi pandangan politiknya.

Metode yang ia kembangkan ialah metode sejarah kritis. Hal itu sebagai bukti ketidakpuasan dengan apa yang dianggap sebagai buku sejarah yang hanya kumpulan fakta disatukan oleh sejarawan modern. Ranke menunjukan sedikit minat dalam pekerjaan sejarah modern sehingga ia memutuskan untuk menolak segala gambaran yang bersifat khayalan dalam karya-karya sejarah, ia hanya percaya pada fakta-fakta sejarah. Inilah yang membedakan penulisan sejarah ala Von Ranke dengan para pendahulunya.

Titik berat yang dijadikan pegangannya ialah fakta-fakta sejarah. Ia bersandar pada tradisi dari filologi, akan tetapi penekanannya hanya terhadap dokumen biasa dan sastra alam. Sejarah yang ia sajikan berdasarkan pada kenyataan yang benar-benar terjadi lebih menarik daripada sejarah yang diromantisir. Oleh karena itu, ia menolak khayalan-khayalan dalam karya sejarah.

Kritik sumber yang ia tonjolkan disebagian besar karyanya merupakan bukti bahwa sejarah bukan cerita semata, ia mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan sekitar memorialis sebagai pengamat dari tindakan yang ia uraikan.

Pergantian yang dia berikan untuk pengembangan ilmu sejarah memang memiliki pengaruh pada perkembangan ilmu-ilmu sosial di mana pandangannya merupakan faktor yang menentukan dalam “memprofesionalkan” sejarah.

Sejarah menjadi subjek akademis yang membutuhkan pelatihan khusus, dan penelitian arsip serta pengeditan bahan sumber menjadi bagian besar dari aktivitas sejarawan. Meskipun awalnya upaya semacam itu berfokus pada sumber untuk sejarah urusan luar negeri, mereka segera meluas ke aspek lain di masa lalu, seperti: sumber-sumber untuk perkembangan kelembagaan, ekonomi, dan sosial.

Dengan demikian, keilmuan historis telah menghasilkan materi yang signifikan untuk semua jenis penelitian sosial. Selain itu, dengan menekankan karakter khusus dan individu dari setiap periode masa lalu, Ranke secara implisit menyarankan keberadaan relativitas nilai-nilai dan membantu menghilangkan hambatan yang telah mencegah pemahaman budaya asing.

SUmber: https://digitalcamera.co.id/