Dasar Hukum Ihya’ Al-Mawat

Dasar Hukum Ihya’ Al-Mawat

Adapun landasan hukum menghidupkan lahan kosong atau ihya’ al-mawat yaitu mustahab, yang didasarkan pada hadis Nabi Saw yang mengatakan bahwa menghidupkan lahan tidur akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Dalam kitab Kifayatul Akhyar hukum menghidupkan lahan kosong adalah jaiz (boleh) dengan syarat orang yang menghidupkan lahan tersebut adalah Muslim dan tanah yang dihidupkan bukan lahan yang sudah dimiliki orang lain.

Hadis-hadist yang berkenaan dengan ihya’ al-mawat

عن عائشة رضي الله عنها, ان النبي صلى الله عليه وسلم قال : من أعمر أرضا ليست لأ حد فهو احق. قال عروة : قضى به عمر رضي الله عنه فى خلا فته (رواه البخارى)[5]

Artinya :  Dari Aisyah r.a : Nabi saw pernah bersabda, “ orang yang mengolah lahan yang tidak dimiliki siapa pun lebih berhak untuk memilikinya. “Urwah berkata”, Umar r.a memberi keputusan demikian pada masa kekhalifahannya (H.R Bukhari)

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: أجلى عمر رضي الله عنه اليهود والنصارى من أرض الحجاج, وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم لما ظهر على خير, أراد اخراج اليهود منها, وكانت الأرض حين ظهر عليها لله ولرسوله صلى الله عليه وسلم وللمسلمين وأراد إخراج اليهود منها, فسأ لت اليهود رسول الله صلى الله عليه وسلم ليقرهم بها ان يكفوا عملها, ولهم نصف الثمر, فقال لهم رسول الله صلى الله عليه وسلم : (نقركم بها على ذلك ماشئنا) فقروا بها حتى أجلى هم عمر ألى تيماء وأريحاء (رواه البخارى)

Artinya:   Dari Ibnu Umar r.a : Umar r.a mengeluarkan orang-orang yahudi dan nasrani dari hijaz pada saat menaklukan khaibar, rasulullah saw hendak mengeluarkan orang-orang yahudi dari tanah itu, sehingga tanah itu menjadi hak milik Allah, Rasulnya dan umat Islam. Tetapi mereka memohon agar tetap dibiarkan tinggal disana dengan syarat mereka akan mengelola tanah itu dan memperoleh separo buah-buahan (hasil mengelola tanah itu). Rasulullah saw bersabda kepada mereka, “kami akan membiarkan kalian tinggal disini selama kami mau,” maka mereka (orang-orang yahudi) tinggal disana hingga umar (pada masa kekhalifahannya) memindahkan mereka Tayma dan Ariha. (H.R. Bukhari)

 

ARTIKEL TERKINI