Literasi Keluarga Cara Tradisional di Era Digital

Literasi Keluarga Cara Tradisional di Era Digital

Literasi Keluarga Cara Tradisional di Era Digital
Literasi Keluarga Cara Tradisional di Era Digital

Tak dimungkiri lagi sekarang dunia digital merambah ke segala bidang kehidupan. Kebiasaan orang-orang berubah. Semua serbamudah dan serbainstan. Gaya hidup anak-anak sampai dengan yang tua berubah mengikuti arus zaman. Meskipun demikian, masih ada juga beberapa orang yang menggunakan gaya hidup yang lama. Bisa jadi karena prinsip hidup ataupun kondisi hidup.

Anak-anak “zaman now” sudah fasih menggunakan gawai terutama ponsel pintar. Bahkan mereka lebih cepat paham daripada orang yang memberikannya, yang tak lain adalah orangtuanya sendiri. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan adalah mereka menggunakan gawai itu lebih ke arah produktif atau konsumtif? Edukatif atau nonedukatif?

Di saat anak-anak menggandrungi gawai, berapa banyak buku yang menjadi teman mereka sehari-hari? Menurut data penelitian Central Connecticut State University (CCSU) bertajuk World’s Most Literate Nations yang dirilis tahun 2016 lalu, perilaku literasi Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei (Sumber baca DI SINI). Jika hanya mengacu data ini, bisa dikatakan kondisi literasi di negara ini sedang “sakit”.

Penyakit literasi sebenarnya bisa disembuhkan walaupun cukup sulit. Obatnya adalah dimulai dari keluarga tempat asal seseorang tumbuh. Kesadaran literasi yang rendah sebenarnya bisa disembuhkan walaupun cukup sulit. Obatnya adalah dimulai dari keluarga tempat asal seseorang tumbuh.

Kesadaran keluarga akan literasi harus ditumbuhkan untuk mewujudkan budaya literasi yang sehat. Keluarga adalah kunci utama literasi. Orang tua menjadi subjek sekaligus objek dalam mewujudkan budaya literasi. Anak-anak harus dikenalkan literasi sejak dini. Di tengah gempuran teknologi digital saat ini, menumbuhkan budaya literasi (khususnya membaca) memang sulit. Namun, semua itu bisa diawali dengan budaya literasi secara tradisional sejak dini, yakni diceritakan dan membaca buku (bukan buku digital).

1. Membacakan Cerita

pixabay.com
Anak-anak suka cerita. Namun, anak balita belum bisa membaca. Mereka perlu dibacakan. Bacaan yang menarik tentunya adalah cerita atau dongeng. Membacakan cerita akan memancing daya imajinasi. Anak akan memproses cerita tersebut menjadi imajinasi. Otomatis otak secara perlahan akan bekerja memvisualisasikan cerita tersebut. Kebiasaan ini akan menstimulasi otak dalam menerjemahkan setiap imajinasi.

Hanya saja, berapa persen orang tua di zaman sekarang yang mau membacakan anaknya cerita. Teknologi instan nan modern sudah ada. Tinggal cari di “penyedia aplikasi”, sebuah program pendongeng / pencerita akan jalan secara otomatis dengan banyak pilihan menu. Bahkan ada juga boneka yang bisa menggantikan peran orang tua dalam bercerita. Bandung Mawardi, seorang esais, dalam tulisannya di Majalah Basis menyatakan bahwa pengasuhan terhadap anak yang paling penting adalah membacakan buku, bukan menyediakan gawai, boneka pencerita, atau yang lainnya. (Sumber baca DI SINI )

Jadi, resep utama menumbuhkan literasi sejak usia dini adalah dengan cara tradisional, yakni membacakan buku atau cerita. Hal yang penting lagi adalah menjadi orang tua jangan mudah asal kritik bahwa anak-anak sekarang tidak mau membaca, membuat anak jadi mau baca itu susah, atau bahkan membandingkan dengan anak zaman dulu yang gemar membaca. Orang tua harus menjadi teladan dan mau meluangkan waktunya untuk membacakan buku kepada anaknya.

2. Sediakan Buku, Bukan Gawai

pixabay.com
Menumbuhkan budaya membaca pada anak balita tidak perlu memakai gawai. Jika sudah cukup usianya nanti, bolehlah berliterasi dengan gawai. Membuat anak suka membaca buku adalah dengan menyediakan buku dan memberi contoh, serta membacakannya.

Saya sendiri punya anak berusia empat tahun. Terus terang saja, dia sudah mengenal gawai dan cukup cakap dalam mengoperasikannya. Tentu saja semua itu dalam pengawasan dan durasi Screen on Time yang dibatasi. Namun, kadang untuk membatasinya cukup sulit.

Akhirnya saya punya ide jitu. Ide ini muncul karena teringat pengalaman saya waktu kecil. Dulu saya sangat menggandrungi salah satu majalah anak, yakni Majalah Kuncung. Bukannya tidak suka dengan majalah anak yang lain, tetapi memang adanya hanya majalah itu. Dulu, saya belum sama sekali kenal dengan Bobo, Fantasi, dan sejenisnya. Kenalnya hanya Kuncung yang dibawakan oleh ayah saya dari sekolahnya.

Semula memang hanya iseng baca-baca. Namun, karena merasa mendapat hiburan saat membaca, maka waktu yang saya tunggu-tunggu saat itu adalah saat ayah saya membawakan Majalah Kuncung. Dari sini bisa diambil hikmah, kebiasaan membaca memang bisa ditumbuhkan dengan adanya fasilitas membaca itu sendiri. Saya pun gemar membaca gara-gara ada majalah anak di rumah.

Berbekal pengalaman di atas, saya langsung mencari majalah anak. Saya spontan membeli sebelas majalah anak. Tidak apalah walaupun semua majalah itu adalah majalah bekas. Hal terpenting adalah masih layak baca, bahkan masih terlihat baru.

Majalah-majalah itu tidak saya berikan secara langsung kepada anak saya. Namun, saya berikan satu per satu. Saya berikan satu majalah dulu supaya dia lihat-lihat gambarnya. Dia pun merespons dengan mengajukan pertanyaan. Secara tidak langsung dia tertarik dengan apa yang dilihatnya. Di saat itulah peran orang tua hadir. Saya pun membacakan cerita bergambar yang ada di majalah itu. Berawal dari situ, jika saya memberikan majalah, sambutan rasa bahagia terpancar darinya.

pixabay.com
Dari pengalaman saya di atas, rasanya cukup mudah menanamkan budaya literasi di rumah bagi anak sejak usia dini. Ya, rasanya seperti mudah dan murah (hanya modal majalah bekas). Namun, ternyata tantangan terbesarnya adalah kita harus menyediakan waktu untuk si anak. Ya, yang penting adalah ada waktu untuk membacakannya.

Saya pernah mencoba memberikan majalah baru (kondisinya tetap bekas) baginya dan membiarkannya untuk membuka-buka sendiri tanpa saya dampingi. Apa responsnya? Pertama tampak senang dan asyik membuka-buka. Lalu muncul respons bertanya dan saya pun menyuruhnya untuk membaca sendiri. Akhirnya, satu isyarat tubuh muncul darinya, yakni rasa “bosan” dan segera meninggalkan bukunya.

Peristiwa itu mengindikasikan bahwa orang tua harus selalu hadir mendampingi anak saat membiasakan budaya membaca sampai anak benar-benar bisa mandiri dalam membudayakan literasi baginya. Ingat, tantangan terbesarnya adalah bisa meluangkan waktu bagi anak kita dalam menumbukan budaya literasi. Akan sangat percuma, jika orang tua sanggup membelikan banyak buku atau majalah, tetapi tidak ada waktu untuk membacakan cerita kepada anak yang masih balita dan belum bisa membaca.

Ya, dua cara di atas adalah cara tradisional tanpa diembel-embeli teknologi digital ala “zaman now”. Namun, saya yakin dua cara di atas adalah langkah terbaik dari kita untuk menumbuhkan kesadaran berliterasi dalam keluarga. Cara itu bisa dilakukan sampai anak-anak bisa membaca secara mandiri. Sesudah itu biarkan mereka menemukan caranya sendiri dalam berliterasi, entah itu menggunakan buku cetak atau buku digital.

Baca Juga :