TUPPERWARE, SAMPAH PLASTIK, DAN OLAHRAGA JALAN KAKI

TUPPERWARE, SAMPAH PLASTIK, DAN OLAHRAGA JALAN KAKI

Olahraga jalur kaki itu pilihan yang ringan dan tidak mahal ketimbang jogging atau sepedaan. Jangan lupa bawa Tupperware biar nggak jadi penumpuk sampah plastik.

Memang sebaiknya olahraga dijadikan budaya Indonesia. Diet, berkenan apa saja ragamnya, tanpa ditemani olahraga, cuma jadi usaha yang sia-sia. Diet, pada pada akhirnya cuma sampai pada taraf “menyiksa tubuh” tanpa dibarengi olahraga. Dan, persoalan untuk kondisi demikianlah cuma tersedia satu, persoalan purba, yang tersedia sampai sekarang, yaitu persoalan niat.

Bayangan orang sering amat negatif. Mulai dari tidak tersedia waktu, sampai biaya besar yang wajib dikeluarkan untuk menjalani olahraga tertentu. Sepedaan, wajib memiliki sepeda. Jogging, wajib ditunjang sepatu spesifik untuk lari sehingga tidak menyakiti kaki. Futsal, wajib memiliki sepatu yang menunjang. telanjang kaki alias nyeker boleh saja, tapi itu bikin anda ndeso banget. Plis, jangan turunkan harga dirimu.

Sebetulnya, solusinya itu begitu mudah. Pilih saja olahraga jalur kaki. Lakukan tiap tiap pagi secara rutin, andaikan lima kali dalam satu minggu. Kalau tidak dapat olahraga jalur kaki kala pagi, pindah saja jadi siang atau sore, lebih-lebih malam. Masih beralasan sibuk? Ya itulah anda kala membangun tembok, menghalangi diri sendiri. Kreatif, dong.

Olahraga jalur kaki itu ringan dan murah. Bahkan kala tidak memiliki sepatu spesifik untuk olahraga, anda tetap dapat berolahraga. Jalan kaki saja di dalam kompleks perumahan, di desa kamu. Minimal 30 menit, anda dapat segera merasakan manfaatnya.

Nah, meski ringan dan murah, olahraga jalur kaki tetap memiliki “masalah”. Bukan, bukan olahraganya yang jadi masalah, tapi kebiasaan manusianya. Kok bisa?

Beberapa Pemerintah Daerah, sejak beberapa th. yang lalu, menyampanyekan yang namanya Car Free Day (CFD) tiap tiap Minggu. CFD jadi “waktu dan tempat” bagi banyak orang yang super sibuk untuk olahraga. Ya ikut senam, jogging, jalur kaki, dan lain sebagainya.

Bahkan tersedia yang olahraga bawa atribut partai, atribut keagamaan tertentu, sambil demo. Sungguh, demo yang pada tempatnya. Sudah sehat, ganggu orang, dan bikin gaduh. Ini orang-orang jenius. Bikin gaduh di sedang keramaian. Men sana in corpore goblok, di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang (semakin) goblok.

Nah, akibat dari banyak orang yang berkumpul adalah sampah, lebih spesiknya: sampah plastik. Botol air mineral, sampah sedotan plastik, sampai bungkus jajanan. Semuanya menggunakan plastik, jadi sampah, sampah plastik. Sama seperti rang-orangnya yang bikin gaduh di area “yang memang semestinya”. Sampah masyarakat.

Bagaimana langkah mengatasinya? Mudah, kami tinggal mengikuti anjuran Siska Nirmala (32), pelaku style hidup zero waste. Ia mengampanyekan solusi yang berbeda. Melalui Kelas Zero waste Adventure, Siska mengajak para pelaku kegiatan bertualang dan pegiat alam bebas untuk mengawali bertualang tanpa membuahkan sampah.

Kelas Zero Waste Adventure digelar bersama dengan pertolongan Saya Pilih Bumi dan National Geographic Indonesia. Kelas Zero Waste Adventure sudah dijalankan Bandung (dengan 30 peserta) dan Jakarta (70 peserta).

Sangat sederhana, untuk type olahraga yang terhitung sederhana. Intinya adalah mengubah pola pikir yang sungguh tidak terpuji: menumpuk sampah plastik dan membuang sampah sembarangan. Nah, jika Mojok Institute sendiri memiliki solusi yang terhitung serupa mudah. Kamu tinggal mengganti botol air mineral yang terbuat dari plastik bersama dengan tumbler. Biar gampang, sebut saja menggunakan Tupperware.

Tupperware memiliki banyak ukuran dan model. Misalnya Tupperware Guava Slim Line, badannya seksi, ringan digenggam, dan ringan dicucup kala berkenan minum. Atau botol type lain yang dinamai keren: Tupperware X-Tream Bottle with straw. Sudah tersedia sedotannya, jadi anda nggak dapat ikut-ikutan numpuk sampah plastik.

Beberapa type Tupperware memang mahal. Namun, di mana tersedia harga, (biasanya) di situ tersedia rupa. Kualitas, jangan ditanya. Cuma, Tupperware ini mengandung risiko yang sungguh tinggi. Risiko kala hilang, anda dapat dilabrak emak atau istri. Kemarahan mereka kala anda menghilangkan Tupperware setara bersama dengan tiga kali bom nuklir. Sungguh bahaya.

Namun tenang, berolaraga bikin asumsi jadi tajam dan bikin kami makin lama waspada. Rajin olahraga jalur kaki bikin anda gak dapat menghilangkan Tupperware. Kalau memang anda amat takut, pakai saja tali pengaman dan kalungkan di leher seperti tren menggunakan flashdisk zaman dulu. Nggak wajib malu. Mau sehat kok malu. Malu itu kampanye di CFD.

Sumber : https://penjaskes.co.id/

Baca Juga :