Pusaka Sakral

Pusaka Sakral

Pusaka Sakral
Pusaka Sakral

Untuk tetap menjalankan amanat, maka digelarlah prosesi siraman Gong Kyai Pradah. Menandai mulai berlangsung upacara sakral yang dilakukan sesepuh Desa Lodoyo bersama warga. Kirab pusaka dan penanaman kepala kambing.

Mentari Bumi Lodoyo masih belum sempurna menampakkan wujudnya. Warga mulai berdatangan dan berkumpul di depan tempat penyimpanan pusaka gong, dan makam Kyai Pradah. Mereka ada yang sengaja hadir untuk berziarah, atau memberi sesaji. Berdesak satu persatu orang berusaha menerobos masuk, mencari celah dari keamanan yang bertugas mengawal acara.

Tepat pukul 07.00 WIB, Mbah Palil dibantu beberapa panitia membawa keluar pusaka dan kepala kambing yang ditutupi kain putih. Mereka keluar dari sebuah ruangan penyimpanan pusaka, yang berukuran 3×4 meter persegi.

Diiringi penari jaranan, reyog, kebo-keboan, dan beberapa penabuh gong dan kempul. Mereka berjalan beriring membawa pusaka dan kepala kambing menuju Desa Dadapan, Kecamatan Lodoyo. Di sana kepala kambing ditanam di sebuah bangunan berukuran 2×2 meter persegi, lalu beberapa sesajian dari warga diletakan di dalam ruangan itu begitu saja.

Seperti yang dikatakan Moedjianto, Camat Sutojayan, kirab sesaji itu dihantar ke bangunan kecil di Desa Dadapan, karena pernah suatu ketika warga kita tidak memberikan sesaji pada leluhur. Tiba-tiba pusaka gong berpindah tempat, dari tempat penyimpanan di Alun-alun Lodoyo menuju Desa Dadapan.
“Titik perpindahannya tepat berada di bangunan sempit itu,” ucap Moedjianto, sembari menunjuk bangunan yang digunakan menanam kepala kambing.

Upacara sakral warga sebagai wujud ungkapan syukur pada Sang Kuasa, dan pada arwah leluhur punggawa desa belum usai. Waktu menunjukan pukul 09.00 WIB, saatnya menjalankan puncak prosesi, siraman pusaka gong. Namun, sebelumnya pusaka Kyai Pradah dikirab sekali lagi mengelilingi Alun-alun Lodoyo. Warga bersorak, berdesak, dan berebut agar dapat menjamah pusaka atau untuk melihat dari dekat.

Setelah itu, Pusaka Kyai Pradah dibawa naik ke panggung permanen atau dikenal dengan istilah Ndalem Pasiraman. Ndalem itu berupa bangunan tinggi (seperti panggung) yang berada tepat di tengah Alun-alun Lodoyo. Di ndalem Pasiraman ini Gong Kyai Pradah dicuci atau dimandikan. Momen inilah yang ditunggu ribuan warga yang hadir.

Masyarakat rela saling berdesakan hanya untuk memperebutkan air, bunga setaman atau apa saja benda bekas untuk mencuci pusaka itu, yang sengaja dijatuhkan dari atas tempat siraman.

Mereka mempercayai jika barang-barang maupun airnya mempunyai tuah. Konon, bisa digunakan untuk mengobati penyakit serta dapat membuat awet muda.

Salah satu warga yang mempercayai hal itu adalah Sukinah, warga Desa Kalipang, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Wanita berusia 59 tahun ini mengaku, setiap kali ritual ini dilaksanakan, dirinya selalu hadir dan ikut berebut air maupun benda-benda lain bekas untuk mencuci Pusaka Kyai pradah.

Menurutnya, selain membuat awet muda, benda-benda lainnya bekas mencuci pusaka seperti bunga setaman, jika disimpan di rumah akan memberi berkah, yakni memperlancar rejeki serta membuat rasa tentram dalam kehiduan rumah tangga.

“Seperti dalam kisah warga sini, pusaka ini dulu kan memiliki banyak keampuhan dalam menjaga seisi desa dari bahaya,” tuturnya.

Sumber : https://freemattandgrace.com/