Penata laksanaannya

Penata laksanaannya

Penata laksanaannya
Penata laksanaannya

Tujuan terapi adalah menghilangkan gejala dengan pemberian seminimal mungkin obat, diantarannya adalah :
a. Penyuluhan pasien penting untuk keberhasilan penatalaksanaan, khususnya mengenai pemicu, penggunaan dan peran obat-obatan dan bagaimana mendeteksi dan bereaksi terhadap perburukan.
b. Menghindari pemicu lingkungan atau alergen, penting terutama menghindari asap rokok.
c. Bila asma kronis, dianjurkan menggunakan pendekatan bertahap. Antagonis leukotrien merupakan gronkodikator efektif pada sebagian penderita asma walaupun perannya secara tepat belum jelas.
d. Bila asma akut, beri O2, kortikostreroid sistemik inhalasi agoni, anti kolinergik dan teofilin bila perlu. (Davey, 2005).
Menurut Mansjoer dkk (2000) penatalaksanaan asma sebagai berikut :
a. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma.
b. Mencegah kekambuhan.
c. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya.
d. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise.
e. Menghindari efek samping obat asma.
f. Mencegah obstruksi jalan nafas yang ireversibel.
Corwin (2005) penatalaksanaan juga dapat dilakukan :
a. Pencegahan terhadap pemajanan alergen.
b. Pencegahan juga mencakup memantau ventilasi secara berkala, terutama selama waktu-waktu puncak serangan asma, misalnya musim dingin.
c. Kemajuan penting dalam pencegahan dan pengobatan serangan asma adalah pemakaian obat-obat anti inflamasi pada permukaan serangan atau sebagai terapi pencegahan.
d. Intervensi perilaku yang ditujukan untuk menenangkan pasien agar rangsangan parasimpatis kejalan nafas berkurang, membantu menghentikan pasien yang menangis kemungkinan udara yang keluar masuk paru melambat dan dapat dihangatkan, sehingga rangsangan terhadapa jalan nafas berkurang.
e. Intervensi farmakologis selama serangan akut mencakup intialasi obat-obatan simpatis B2.
f. Golongann metil – xantin juga menghilangkan spasme.
g. Obat-obat anti koligernik yang diberikan untu mengurangi efek pada simpatis sehingga melemaskan otot polos bronkiolus.

Sumber : https://busbagus.co.id/