KEHIDUPAN MANUSIA PURBA DI INDONESIA

KEHIDUPAN MANUSIA PURBA DI INDONESIA

Manusia purba atau dikategorikan sebagai manusia yang hidup
pada masa postingan atau aksara belum dikenal, disebut termasuk manusia
prasejarah atau Prehistoric people. Manusia purba diperkirakan
telah tersedia di bumi sejak 4 juta tahun yang lalu.
Manusia purba memiliki volume otak yang lebih kecil daripada
manusia moderen sekarang. Cara berpikirnya pun masih
sederhana dan primitif. Serta hidupnya pun berkelompok. Tempat
tinggal mereka adalah gua-gua dan pepohonan yang tinggi guna
terhindari dari serangan binatang buas. Jadi, mereka belum memiliki
tempat tinggal permanen; bersama dengan kata lain: mereka hidup
berpindah-pindah (nomaden)

Untuk mencukupi keperluan biologisnya, mereka biasa
memakan buah-buahan dan tetumbuhan yang di sajikan alam.
Untuk mampu memakan daging, mereka berburu binatang dengan
menggunakan perkakas dari batu. Batu ini pun dipergunakan
untuk keperluan ritual keagamaan, seperti membawa dampak dolmen,
menhir, sarkofagus, dan punden berundak-undak. Oleh karena
itu, masa ini disebut termasuk bersama dengan manusia Zaman Batu.
Namun, dikarenakan tuntutan hidup jadi banyak dan populasi
bertambah, manusia purba pun harus pandai-pandai beradaptasi
dengan alam-lingkungannya. Perkakas-perkakas untuk memenuhi

kebutuhan hidup, mengalami perkembangan. Bentuk yang tadinya
sederhana lambat-laun mengalami perubahan: jadi halus
dan efektif. Cara memperoleh makanan yang pada mulanya hanya mengandalkan
makanan dari alam, berubah setelah mereka mengenal
api. Pada masa neolitikum, mereka menjadi bercocok tanam. Dan
pada masa perunggu, mereka sudah pandai mengecor logam (yang
sebelumnya mengfungsikan tanah liat) untuk dibentuk menjadi
alat-alat seperti arca, alat-alat tajam, perhiasan.

1. Jenis Manusia Purba di Indonesia
Seperti sudah dibahas di atas bahwa di Indonesia banyak ditemukan
fosil tengkorak dan tulang-belulang manusia purba. Manusia purba
yang dulu hidup di Kepulauan Indonesia ini banyak jenisnya.
Masing-masing mewakili zaman di mana ia hidup.

a. Meganthropus Paleojavanicus
Manusia purba style ini hidup terhadap masa paleolitikum. Meganthropus
paleojavanicus berarti manusia-Jawa purba yang bertubuh
besar (mega). Manusia purba ini diyakini merupakan makhluk
tertua yang dulu hidup di Pulau Jawa. Mereka diperkirakan
hidup kira-kira 1–2 juta tahun yang lalu. Fosil rahang bawah dan
rahang atas manusia purba ini ditemukan oleh Von Koenigswalg
di Sangiran terhadap tahun 1936 dan 1941. Von Koenigswalg menemukan
bahwa Meganthropus ini memiliki rahang bawah yang
tegap dan geraham yang besar, tulang pipi tebal, tonjolan kening
yang drastis dan tonjolan belakang kepala yang tajam serta
sendi-sendi yang besar. Melihat suasana fisiknya disimpulkan
bahwa Meganthropus ini pemakan tumbuh-tumbuhan.

b. Pithecanthropus

Pithecanthropus berarti manusia kera, hidup di zaman Paleolitikum.
Fosil ini pertama kali ditemukan oleh Eugene Dubois
pada tahun 1891, yaitu anggota rahang, gigi dan beberapa tulang
tengkorak. Manusia kera ini berlangsung tegak bersama dengan dua kaki,
dan diperkirakan hidup terhadap 700.000 tahun yang lalu. Dubois
menemukan fosil Pithecanthropus di Trinil tempat Ngawi terhadap saat
Sungai Bengawan Solo sedang kering, lantas fosil tersebut
dinamai Pithecanthropus erectus, berarti manusia kera yang berjalan
tegak. Sekarang, nama ilmiah manusia purba Pithecanthropus
erectus dikenal bersama dengan nama Homo erectus. Pithecanthropus
memiliki tanda-tanda tinggi badan antara 165-180 cm, volume otak
antara 750-1300 cc dan berat badan 80-100 kg.
Dalam beberapa sumber penelitian diperkirakan Pithecanthropus
adalah manusia purba yang pertama kalinya mengenal
api supaya berlangsung perubahan pola memperoleh makanan yang
semula mengandalkan makanan dari alam menjadi pola berburu
dan menangkap ikan.
Peralatan yang sudah ditemukan terhadap tahun 1935 oleh Von
Koenigswalg di tempat Pacitan tepatnya di tempat Punung adalah
kapak genggam atau chopper (alat penetak) dan kapak perimbas.
Kapak genggam dan kapak perimbas terlampau sesuai digunakan
untuk berburu. Manusia purba yang mengfungsikan kapak genggam
hampir merata di semua Indonesia, di antaranya di Pacitan,
Sukabumi, Ciamis, Gombong, Lahat, Bengkulu, Bali, Flores dan
Timor. Di tempat Ngandong dan Sidoarjo ditemukan pula alatalat
dari tulang, batu dan tanduk rusa didalam wujud mata panah,
tombak, pisau dan belati. Di dekat Sangiran ditemukan alat-alat
berukuran kecil yang terbuat dari batu-batu indah yang bernama
flakes (serpihan).
Manusia kera (Pithecanthropus) style lain yang berhasil ditemukan
antara lain:

(1) Pithecanthropus mojokertensis atau manusia kera dari Mojokerto,
ditemukan di tempat Perning, Mojokerto, terhadap 1936
– 1941 oleh Von Keonigswalg. Fosil yang ditemukan berupa
tengkorak anak-anak berusia kira-kira 6 tahun. Walaupun ditemukan
lebih muda dari Pithecanthropus erectus oleh Dubois,
fosil Pithecanthropus mojokertensis ditafsir merupakan jenis
manusia purba yang lebih tua usianya dibandingkan dengan
yang lain.

(2) Pithecanthropus soloensis atau manusia kera dari Solo, ditemukan
di tempat Ngandong, di lembah Sungai Bengawan Solo,
antara tahun 1931-1934. Fosil penemuan Von Keonigswalg
dan Weidenreich ini bersifat 11 buah fosil tengkorak, tulang
rahang, dan gigi.Fosil pithecanthropus ditemukan pula di Cina, tepatnya di
gua Chou-ku-tien dekat Beijing. Fosil ini ditemukan oleh ilmuwan
Cina, Pei Wen-Chung, dan fosil itu dinamai Sinanthropus
Pekinensis. Sinanthropus pun mempergunakan perkakas batu yang
sejenis bersama dengan perkakas batu dari Pacitan.

c. Homo sapiens
Homo sapiens merupakan manusia purba moderen yang memiliki
bentuk tubuh yang sama bersama dengan manusia sekarang. Homo sapiens
disebut pula manusia berbudaya dikarenakan peradaban mereka cukup
tinggi. Dibandingkan bersama dengan manusia purba sebelumnya, Homo
sapiens lebih banyak meninggalkan benda-benda berbudaya. Diduga,
mereka inilah yang menjadi nenek moyang bangsa-bangsa
di dunia.
Fosil Homo sapiens di Indonesia ditemukan di Wajak, dekat
Tulungagung, Jawa Timur, oleh Von Rietschoten terhadap tahun 1889.
Fosil ini merupakan fosil pertama yang ditemukan di Indonesia,
yang diberi nama Homo Wajakensis atau manusia dari Wajak.
Fosil ini lantas diteliti ulang oleh Eugene Dubois. Manusia
purba ini memiliki tinggi badan 130-210 cm, berat badan 30-150
kg, dan volume otak 1350-1450 cc. Homo Wajakensis diperkirakan
hidup antara 25.000 – 40.000 tahun yang lalu. Homo Wajakensis
memiliki persamaan bersama dengan orang Australia purba (Austroloid).
Sebuah tengkorak kecil dari seorang wanita, sebuah rahang bawah,
dan sebuah rahang atas dari manusia purba itu terlampau sama dengan
manusia purba ras Australoid purba yang ditemukan di Talgai
dan Keilor yang rupanya duduki tempat Irian dan Australia.
Di Asia Tenggara ditemukan pula manusia purba style ini di
antaranya di Serawak, Filipina, dan Cina Selatan.
Berdasarkan penemuan-penemuan fosil tersebut, timbul pertanyaan
yang mendasar: apakah Homo sapiens (manusia modern,
seperti kita) merupakan sambungan dari manusia Pithecanthropus
(manusia kera)? Apakah keduanya masih didalam satu spesies
yang sama? Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum mampu dijawab
oleh para pakar dikarenakan tidak terdapatnya mata rantai yang mampu menghubungkan
”benang merah” antarkeduanya. Sedangkan agama
monotheis (Islam, Kristen, Yahudi) menunjukkan bahwa manusia
(homo sapiens) merupakan keturunan Nabi Adam dan tidak ada
sangkut pautnya bersama dengan manusia purba manapun.

2. Jenis Manusia Purba di Luar Indonesia
Selain di Indonesia, fosil manusia purba termasuk ditemukan di luar Indonesia.
Fosil manusia purba di luar Indonesia sebagai berikut:
a. Sinanthropus Pekinensis.
Fosil ini ditemukan oleh Prof. Devidson Black terhadap tahun
1927 di gua−gua dekat Chou−Kou−Tien ± 60 km di sebelah Barat Daya kota Peking. Hasil penemuan menunjukkan adanya
persamaan-persamaan bersama dengan Pithecanthropus Erectus
b. Homo Africanus (Homo Rhodesiensis)
Ditemukan oleh Raymond Dart dan Robert Brom pada
tahun 1924 di goa Broken Hill, Rhodesia (Zimbabwe).
c. Australopithecus Africanus
Ditemukan oleh Raymond Dart terhadap tahun 1924 di Taung,
dekat Vryburg, Afrika Selatan.
d. Homo Heidelbergensis
Ditemukan oleh Dr. Schoetensack di desa Mauer dekat kota
Heidelberg (Jerman).
e. Homo Neanderthalensis
Ditemukan oleh Rudolf Virchow dan Dr. Fulrott di lembah
Sungai Neander, dekat Dusseldorf, Jerman tahun 1956.
Ciri−ciri manusia purba ini mendekati ciri−ciri Homo Wajakensis.
f. Homo Cro Magnon (Ras Cro – Magnon)
Ditemukan oleh Lartet di gua Cro Magnon dekat Lez Eyzies,
sebelah Barat Daya Perancis tahun 1868.

Baca Juga :