“Ulin Samemeh Magrib”, Upaya Melestarikan Permainan Tradisiona

“Ulin Samemeh Magrib”, Upaya Melestarikan Permainan Tradisiona

Ulin Samemeh Magrib, Upaya Melestarikan Permainan Tradisiona
Ulin Samemeh Magrib, Upaya Melestarikan Permainan Tradisiona

Langit sore mengiringi Dava (13) mengajak teman-temannya untuk bermain. Dengan sarung yang diselempangkan di pundak, ia mencari teman sebaya. “Jaleuleuy ja !,” teriak Dava seraya mengajak bermain. “Tulak tuja eman gog,” timpal teman-temannya mengiyakan ajakan Dava. Sesaat kemudian, 13 temannya muncul, bertegur sapa, berkumpul dan merindungkan sesuatu.

“Jadi bade ulin naonnya ?,” tanya Afan (13). “Ayeuna mah hayu urang ulin hahayaman yuk !,” jawab Daffa dan disetujui oleh semua rekannya. Mereka pun melingkar, mengurung Dava yang menjadi ayam.

Setelahnya, mereka tak hanya bermain hahayaman. Ada banyak permainan tradisional

yang mereka mainkan, seperti alung sarung, engkle, mumundingan, buntut kadal, balap sarung dan babanjakan. Wajah ceria dan tawa mereka terekam jelas. Kesenangan yang hanya mereka dapatkan lewat permainan tradisional.

Bunyi bedug yang ditabuh pun terdengar dan seketika menghentinkan aktivias bermain. Tak lama berselang, Fahmi (13) mengajak semuanya temannya untuk pergi ke Masjid karena Adzam Magrib telah berkumandang.

Hal tersebutlah yang tergambar dari penampilan siswa SMPN 1 Parungkuda,

Kabupaten Sukabumi dalam acara Festival Kaulinan Urang Lembur 2018 di Gedung Teater Taman Budaya Jawa Barat, Jalan Bukit Dago Utara, Kota Bandung, Kamis, 11 Oktober 2018. Mengambil tema “Ulin Samameh Maghrib”, penampilan nomor urut satu tersebut disambut meriah olah penonton yang memenuhi gedung.

Acara Festival ini diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat dan diikuti oleh 25 peserta yang terdiri dari seluruh Kabupaten dan kota di Jawa Barat.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Ida Hermida mengatakan, pemerintah harus turut aktif untuk mengedukasikan kebudayaan tradisional kepada generasi muda agar kebudayaan bisa terus lesati. “Pemerintah juga harus turut serta dalam proses edukasi kebudayaan terhadap generasi muda. Apalagi permaian tradional. Zaman sekarang anak-anak sudah dicekoki yang namanya gawai, mereka sudah jarang dikenalkan dengan permaian tradisional,” ucap Ida.

Ida memaparkan, dari data yang Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan

(Kemendikbud) himpun, jumlah permainan tradisional di Indonesia mencapai 1094 permainan. Dan Jawa 564 berasal dari daerah Jawa Barat. “Ada 564 permainan tradisional di Jawa Barat, kita harus sama-sama melestarikan itu semua,” tutur Ida.

Salah satu peserta, Dava Rayhan mengatakan, permainan tradisional sudah jarang dimainkan oleh anak-anak seumurannya karena lebih asyik bermain dengan gawai. Dengan cara ini, lewat asuhan dan bimbingan dari guru di sekolah, ia dan teman-temannya mencoba mengajak agar anak-anak seusianya untuk memainkan permainan tradisional. “Iya udah jarang liat yang main enggrang, sonda di sekitar rumah. Jadi semoga kedepannya kita bisa main ini sama-sama lagi,” tutur Dava.***

 

Sumber :

https://rushor.com/niat-sholat-tahajud-dan-witir/