Senat UNJ: Jangan Kotori Pemilihan Rektor dengan Politik Uang

Senat UNJ: Jangan Kotori Pemilihan Rektor dengan Politik Uang

Senat UNJ Jangan Kotori Pemilihan Rektor dengan Politik Uang
Senat UNJ Jangan Kotori Pemilihan Rektor dengan Politik Uang

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sedang mencari rektor baru untuk periode 2019-2023

. Ketua Senat UNJ, Prof Hafid Abbas mengatakan, dalam pemilihan rektor UNJ ini, senat berharap tidak terjadi politik uang yang hanya akan mencederai demokrasi di kampus. Untuk menghindarinya, UNJ memiliki kriteria yang sudah digariskan dalam panduan untuk menjadi calon rektor. Yakni harus ada laporan kekayaan dan kelakukan baik. Oleh karena itu, UNJ berharap para calon rektor (carek) tidak tergoda untuk melakukan penyimpangan.

“Kalau ketahuan tentu senat tidak akan mentolerir ini. Jadi proses harus akuntabel

. Media bisa mengungkap juga karena tidak ada batas untuk membatasi media, Tujuan senat adalah agar kampus terbebas dari perilaku korupsi ingin bersih, idealisme. Bahkan, kami menitipkan enam persyaratan sebagai rambu-rambu untuk para carek memimpin kampus ini,” ujarnya dalam konferensi pers di kampus UNJ, Kamis (18/8).

Ia menuturkan, selain persyaratan bebas narkoba, berkelakuan baik, dan berjiwa nasionalis, transparansi dalam pemilihan rektor adalah syarat mutlak agar UNJ tidak dipimpin oleh rektor dengan suasana yang penuh ketertutupan.

“Kami berharap tidak ada kasus seperti di tempat lain, misalnya pemenang dengan suara tertinggi

tidak diprioritaskan, tapi yang jadi rektor adalah yang suaranya rendah karena ada pertimbangan di luar yang sesuai kriteria. Mudah-mudahan itu tidak terjadi di UNJ,” katanya.

Menurutnya, apabila pada waktu pendaftaran yang ditetapkan sepi peminat, yakni kurang dari empat orang, maka jadwal pendaftaran akan diperpanjang selama satu minggu. Tahap pendaftaran bakal calon dimulai pada 26 Juli 2019 hingga 1 Agustus 2019. Diharapkan pada akhir September 2019, UNJ sudah memiliki rektor baru.

Akan tetapi, apabila penambahan waktu satu minggu itu tapi jumlah pendaftar masih kurang, prosesnya akan dikembalikan kepada Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), apakah diperbolehkan diperpanjang atau tidak. Pasalnya, akan sangat berisiko jika tidak ada yang berminat menjadi rektor. Sebab, untuk persentase suara dalam penentuan rektor terdiri atas 65% senat UNJ dan 35% suara Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti).

Semua proses pelaksanaan mulai dari tahap penjaringan, penyaringan, hingga pada tahap penetapan dilakukan secara terbuka agar UNJ mendapat carek yang sesuai dengan enam kriteria yang ditetapkan senat. Pemilihan rektor UNJ ini dilakukan setelah dua tahun UNJ tidak memiliki rektor definiti

 

Sumber :

http://sitialfiah.blogs.uny.ac.id/bedhaya-ketawang-dan-bedhaya-semang/