Cara Mengenali Emosi Dominan Anda guna Mendorong Semangat Kerja

Cara Mengenali Emosi Dominan Anda guna Mendorong Semangat Kerja

Kara (29) ialah seorang rising star executive di kantornya, suatu perusahaan consumer good. Kepintaran dan kegesitan di lapangan yang menciptakan Kara sukses menjadi pimpinan di umur yang relatif muda. Sebetulnya, tak ada sejawat atau staf yang mempertanyakan posisinya ketika ini, namun ada satu urusan yang mengganggu diri Kara, yakni ia gampang naik darah.

Kemarahan Kara mudah tersulut, entah tersebut ketika ia merasa atasannya melalaikan pendapatnya, anak buah yang tidak menggarap tugas cocok arahan, atau sejawat yang ia rasa tidak bekerja keras laksana dirinya atau timnya. Karena ia tidak jarang kehilangan kontrol guna rasa marahnya, ia pernah dinasihati oleh atasannya supaya bisa menyangga diri.

Nasihat dan masukan tersebut memang menciptakan Kara berjuang keras untuk mengurangi rasa marah. Namun, lama-lama ia merasa bahwa apa yang ia lakukan tersebut seperti memadamkan inti kepribadiannya. Ia merasa laksana menjadi bukan Kara lagi. Ketika menyadari urusan itu, Kara malah merasa lebih marah dan kecewa.
Berdasarkan keterangan dari Susan David dan Christina Congleton dalam tulisan Managing Yourself: Emotional Agility yang keluar di Harvard Business Review, tidak jarang kali pemimpin-pemimpin yang smart, berbakat dan sukses pun ‘tersangkut’ dalam pikiran-pikiran dan emosi mereka.

Kara misalnya, dia ‘meledak’ oleh kemarahan yang lantas membuatnya putus asa karena laksana memiliki jati diri terbelah saat ia berjuang untuk mengurangi rasa marahnya. Karena itu, menurut keterangan dari David dan Congleton, seseorang mesti dapat melepaskan ‘kait’ tersebut. Ada sejumlah langkah yang mesti ditempuh, dan yang kesatu ialah mengenali pola-pola emosi diri anda dari perasaan apa yang berulang-ulang muncul.

Berdasarkan keterangan dari Vina G. Pendit, Direktur Daya Lima, lembaga konsultan SDM, dari seluruh ‘baju’ emosi yang anda miliki, anda memang mesti mengenal emosi apa yang dominan. Bila tidak, kita dapat mislead. Maksudnya, anda akan terjebak pada emosi yang itu-itu saja, tanpa memberi peluang pada emosi beda yang anda miliki guna muncul.

Bagaimana mengenali emosi dominan? Sama laksana saran David dan Congleton, menurut keterangan dari Vina, sebenarnya gampang sekali. “Reaksi seseorang guna berespons terhadap sekian banyak situasi akan mengekor suatu pola yang ingin diwarnai emosi tertentu,” ujar Vina.

Seperti contoh, pulang ke peristiwa pindah kantor yang bakal ditanggapi dengan emosi yang bertolak belakang antara orang yang didominasi oleh emosi marah, kecewa, dan kesal dengan orang yang punya emosi yang lebih beragam. Orang yang sarat dengan emosi sedih, kecewa, dan marah akan memandang pindah lokasi tinggal sebagai sebuah petaka, kesulitan, kesusahan, dan kecapekan (karena mesti ngurusin ini itu).

Dengan mengenali emosi yang tidak jarang kali hadir di sekian banyak peristiwa – bila perlu menulis emosi apa yang anda lakukan saat suatu peristiwa terjadi – maka bakal terlihat emosi apa yang berpengaruh dan berulang muncul.

“Pertanyaan ialah apakah emosi yang hadir berulang tersebut menguntungkan saya? Membuat saya bahagia? Membantu saya menjadi lebih mudah? Jika lebih tidak sedikit jawaban ‘tidak’, maka tersebut berarti emosi itu tidak menguntungkan. Emosi tersebut memberi beban pada saya, meningkatkan rumit permasalahan dan menciptakan saya tidak bahagia,” kata Vina.

Namun, Vina menyadari, tidak mudah untuk seseorang guna menerima bahwa emosi tertentu sudah mendominasi hidupnya. “Beberapa orang mencoba mengerjakan meditasi, perenungan diri, hening dan mengupayakan mendengarkan diri sendiri untuk dapat mengenali emosi apa yang sedang berkecamuk ketika itu,”
kata Vina, yang menyarankan pertolongan dari profesional guna mengenali emosi dominan.

Acceptance ini dapat membuat seseorang mengelola emosinya dengan baik. Katakanlah emosi yang dirasakan tidak baik, pemarah misalnya. Bila dikelola dengan baik, maka tetap bakal menguntungkan. “Dengan memakai prinsip lemari ‘baju’, maka orang dapat memakai emosi marahnya di ketika yang tepat dengan teknik yang tepat pula,” kata Vina. Contohnya, anda memang mesti marah bila anak buah kerjanya lelet dan semau gue. Jangan karena hendak dicap sebagai bos yang baik, maka kita mengurangi emosi marah.

“Marah tersebut sangat boleh untuk kondisi yang tepat, untuk orang yang tepat, di masa-masa yang tepat pula,” kata Vina. Begitu pula dengan sabar, terdapat konteksnya. Membiarkan deadline tidak tercapai sebab kita sebagai atasan tidak memakai ‘baju’ emosi tegas ketika menagih kegiatan anak buah, pun bsia bermasalah. Di sinilah pentingnya seseorang tepat memilih ‘baju’ yang bakal ia kenakan pada tiap situasi yang sedang dihadapinya.


Baca Juga: