KETERAMPILAN MEREFLEKSI PERASAAN

KETERAMPILAN MEREFLEKSI PERASAAN

KETERAMPILAN MEREFLEKSI PERASAAN
KETERAMPILAN MEREFLEKSI PERASAAN

Menurut Kathryan Geldard & David Geldard (2011 : 93)

Perasaan adalah emosi, bukan pikiran. Merefleksikan perasaan adalah cara yang bermanfaat untuk membantu pelepasan beban emosional dengan efek penyembuhan. Ketika kita merefleksikan perasaan kita menunjukkan pada klien bahwa kita berempati dan memahami apa yang mereka rasakan. Refleksi perasaan serupa dengan parafrasa tetapi tidak sama. Kemiripannya terletak pada tindakan perefleksian informasi yang di berikan oleh klien kepada klien sendiri. Perbedaannya, bahwa refleksi perasaan merefleksikan kepada klien ekspresi – ekspresi emosionalnya, sementara parafrasa merefleksikan kepada klien informasi – informasi dan pikiran – pikiran yang menggambarakan isi pembicaraan klien.

 

Menurut Jamal Ma`mur Asmani (2010 : 210)

refleksi adalah teknik untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan non verbal.

Keterampilan ini dapat dikembangkan bila konselor telah memiliki keterampilan dalam mengidentifikasikan perasaan. Refleksi perasaan yang tepat akan mendorong klien untuk lebih terbuka dan meyakini akan ekspresi perasaan  sendiri, serta lebih menaruh kepercayaan kepada konselor, karena persepsi konselor benar.

 

Dalam merefleksi perasaan sebagai respon yang empatik, sering dinyatakan secara tentatif, seperti :

“Apakah anda mengharap……………….”

“mungkin anda merasa……………………”

Dapat ditambahkan, bahwa dalam merespon konselor hendaknya lebih menekankan pada emosional klien. Amat disarankan bahwa dalam merespon ini konselor perlu menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan pengalaman kultural dan pendidikan klien, serta tidak perlu berlebihan. Beberapa tujuan refleksi perasaan yaitu :

  1. Membantu klien memahami perasaanya.
  2. Mendorong klien agar lebih banyak mengekspresikan perasaanya, baik positif maupun negative, tentang situasi, orang atau hal – hal khusus lainnya.
  3. Membantu klien menata atau mengatur perasaan – perasaanya.
  4. Memberitahukan pada klien bahwa konselor memahami perasaan klien yang tidak suka atau marah kepada konselor, sehingga perasaan tersebut berkurang.
  5. Membantu klien membedakan intensitas berbagai perasaan yang ada dalam dirinya.

Refleksi perasaan bisa menjadi keterampilan yang sulit di pelajari karena sering kali perasaan – perasaan tersebut di abaikan atau tidak di pahami. Cormier & Cormier (1985) (dalam Retno Tri Hariastuti, 2007:42)mengemukakan enam langkah dalam membuat refleksi perasaan, yaitu :

  1. Mendengarkan kata – kata yang di gunakan klien untuk menyatakan perasaan – perasaanya, atau langkah – langkah afektif dalam pesan atau pernyataan klien.
  2. Perhatikan tingkah laku nonverbal klien ketika ia mengemukakan pernyataan atau pesan – pesan secara verbal. Nada suara dan ekspresi wajah dapat memberi tanda atau petunjuk mengenai perasaan dala diri klien. Sering kali, perilaku non verbal menjadi petunjuk yang lebih sesuai dengan emosi klien karena perilaku non verbal lebih sulit di control dibandingkan dengan kata – kata.
  3. Menyatakan kembali perasaan – perasaan klien dengan menggunakan kata – kata yang berbeda dari yang di ucapkan klien. Perlu di perhatikan dalam memilih kata yang tepat untuk menggambarkan intensitas perasaan klien. Untuk membedakan intensitas perasaan dsapat di buat daftar kata – kata perasaan (feeling words). Daftar ini akan membantu konselor dalam memilih kata – kata yang sesuai dengan emosi atau perasaan klien yang akn di refleksikan.
  4. Mengemukakan pernyatan refleksi dengan awalan kata yang sesuai dengan petunjuk dari klien, apakah di sampaikan secara visual, auditoria tau kinestik.
  5. Menambahkan konteks atau situasi dimana perasaan itu muncul.
  6. Memeriksa keefektifan refleksi berdasarkan respon klien terhadap pernyataan refleksi yang disampaikan konselor. Jika identifikasi perasaan klien dalam refleksi itu tepat, klien akan menyatakan “ ya, benar “ atau “ ya, itulah yang saya rasakan.”

Contoh percakapan menggunakan teknik merefleksi perasaan

  • “nampaknya yang Anda katakan adalah….”
  • “kelihatanya yang Anda maksudkan adalah…”
  • “barangkali Anda merasa….”
  • “nampaknya Anda merasa ….”
  • “saya perhatikan Anda kelihatnnya…..”

Sumber : https://uberant.com/article/556687-definition-of-text-review-and-examples/