Pemilihan Model Pembelajaran yang Efektif

Pemilihan Model Pembelajaran yang Efektif

Pemilihan Model Pembelajaran yang Efektif
Pemilihan Model Pembelajaran yang Efektif

Dalam mengajarkan suatu pokok bahasan tertentu harus dipilih model- model pembelajaran

Yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Suatu model pembelajaran dikatakan baik jika memenuhi criteria sebagai berikut.

  1. Sahih (valid). Aspek validitas dikaitkan dengan dua hal, yaitu (1) apakah model yang dikembangkan didasarkan pada rasional teoretik yang kuat, dan (2) apakah terdapat konsistensi internal.
  2. Praktis. Aspek kepraktisan hanya dapat dipenuhi jika: (1) para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa uang dikembangkan dapat diterapkan, dan (2) kenyataan menunjukan bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat diterapkan.
  3. Efektif. Berkaitan dengan apek efektifitas ini, Nieveen memberikan parameter sebagai berikut: (1) ahli dan praktisi berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa model tersebut efektif, dan (2) secara operasional model tersebut memberikan hasil sesuai yang diharapkan (Trianto, 2007: 8).

.

Telah dikemukakan model pembelajaran yang berlaku untuk umum dan diperkirakan sesuai untuk berbagai tujuan pembelajaran. meskipun secara teori terdapat banyak model pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Akan tetapi, dalam memilih model tersebut haruslah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai sehingga model tersebut dapat digunakan secara efektif.

 

Hakikat ModelInkuiri Jurisprudensial

Pada dasarnya metode ini merupakan metode studi kasus dalam proses peradilan dan selanjutnya diterapkan dalam suasana belajar di sekolah. Dalam model ini para siswa sengaja dilibatkan dalam masalah-masalah sosial yang menuntut pembuatan kebijakan pemerintah yang diperlukan serta berbagai pilihan untuk mengatasi isu tersebut, misalnya tentang konflik moral, toleransi dan sikap-sikap sosial lainnya. Model ini bertujuan membantu siswa belajar berfikir secara sistematis tentang isu-isu mutakhir. Para siswa dituntut merumuskan isu-isu tersebut dan menganalisis pemikiran-pemikiran alternatif. Model ini juga didasarkan atas konsep tentang masyarakat dimana terdapat perbedaan-perbedaan pandangan dan prioritas bahkan konflik nilai antara seseorang dengan yang lain.

Untuk mengatasi masalah yang kompleks terutama tentang isu-isu yang kontrofersial maka menuntut warga negara untuk dapat berbicara satu sama lain, dapat bernegosiasi mengenai perbedaan-perbedaan dalam masyarakat tersebut. Model ini potensial untuk digunakan dalam bidang studi yang membahas isu-isu kebijaksanaan umum, termasuk yang berkenaan dengan isu-isu atau konflik moral dalam kehidupan sehari-hari.

 

Model pembelajaran inkuiri jurisprudensial dikembangkan oleh Donald Oliver dan James P. Shaver (1966/1974).

Model ini bertujuan mengajari siswa untuk menganalisis dan berpikir secara sistematis dan kritis terhadap isu-isu yang sedang hangat di masyarakat. Secara umum tahap pembelajaran inkuiri jurisprudensial, yaitu (1) orientasi kasus atau permasalahan (orientation to the case), (2) identifikasi isu (identifying the issue), (3) penetapan posisis atau pendapat (taking position), (4) menyelidiki cara berpendirian, pola argumentasi (or exploring the stance, patterns argumentation), (5) memperbaiki dan mengkualifikasi posisi (refining and qualifying the position), (6) melakukan pengujian asumsi-asumsi terhadap posisi atau pendapatnya (testing factual assumtions behind qualified positions).

 

Strartegi pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial (Jurisprudential inquiry) adalah

strategi pembelajaran yang dipelopori dan dikembangkan oleh Donal Oliver dan James P. Shaver. Menurut Donal Oliver dan James P. Shaver (dalam Wena, 2009:71), strategi pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial mengajari siswa untuk menganalisis dan berfikir secara sistematis dan kritis terhadap isu-isu yang sedang hangat di masyarakat. Strategi pembeajaran ini didasarkan atas pemahaman masyarakat dimana setiap orang berbeda pandangan dari prioritas satu sama lain, dan nilai-nilai sosialnya saling berkronfrontasi satu sama lain. Memecahkan masalah kompleks dan kontroversial di dalam konteks aturan sosial yang produktif membutuhkan warga negara yang mampu berbicara satu sama lain dan bernegosiasi tentang keberbedaan tersebut.

Strategi pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial mengajarkan siswa untuk berfikir kritis terhadap isu-isu sosial. Hitchcock (dalam Robert E. Slavin, 1994: 258) mengatakan bahwa,  one key objective of schooling is enhancing students abilities to think critically, to make rational decisions about what to believe. Salah satu tujuan utama dari pendidikan adalah meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, untuk membuat keputusan yang rasional tentang apa yang harus percaya. Allyn and Bacon (2009:243) menjelaskan bahwa strategi-strategi pembelajaran inkuiri menggunakan proses-proses dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dan memecahkan masalah-masalah berdasarkan pada pengujian logis atas fakta-fakta dan observasi-observasi untuk mengajarkan konten dan untuk membantu siswa berfikir secara analitis.

Pembelajaran inkuiri dimulai dengan memberi siswa masalah-masalah yang berhubungan dengan konten yang nantinya menjadi fokus untuk aktifitas-aktifitas penelitian kelas. Dalam menyelesaikan masalah siswa menghasilkan hipotesis atau solusi tentatif untuk masalah tersebut, mengumpulkan data yang relevan dengan hipotesis yang telah dibuat, dan mengevaluasi data tersebut untuk sampai kepada kesimpulan. Melalui pembelajaran inkuiri, siswa mempelajari konten yang berhubungan dengan masalah tersebut sekaligus strategi-strategi untuk memecahkan masalah-masalah di masa yang akan datang.

Hamzah B. Uno (2007:31) mengemukakan bahwa, strategi pembelajaran inkuiri jurisprudensial membantu siswa untuk belajar berpikir secara sistematis tentang isu-isu kontemporer yang sedang terjadi dalam masyarakat. Dengan memberikan mereka cara-cara menganalisis dan mendiskusikan isu-isu sosial, strategi pembelajaran ini membantu siswa untuk berpartisipasi dalam mendefinisikan ulang nilai-nilai sosial.

Selain itu, strategi pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial melatih siswa untuk peka terhadap permasalahan sosial, mengambil posisi (sikap) terhadap permasalahan tersebut, serta mempertahankan sikap tersebut dengan argumentasi yang relevan dan valid. Strategi ini juga dapat mengajarkan siswa untuk dapat menerima atau menghargai sikap orang lain terhadap suatu masalah yang mungkin bertentangan dengan sikap yang ada pada dirinya. Atau sebaliknya, ia bahkan menerima dan mengakui kebenaran sikap orang lain yang diambil terhadap suatu isu sosial tertentu.  Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/