I THINK, I LOVE YOU

I THINK, I LOVE YOU

I THINK, I LOVE YOU
I THINK, I LOVE YOU

 

Aku berlari tergesa-gesa menerjang hujan senja ini.

Nafasku mulai tersengal-sengal ketika makin kupercepat langkahku yang selaras dengan hujan yang mengalir dengar derasnya. Kulihat sebuah halte di ujung jalan di depanku, aku makin semangat melangkahkan kaki. “huff.. akhirnya..” gumamku dalam hati ketika tiba di halter tersebut. Keperhatikan di sampingku ada seorang ibu separuh baya menatapku sambil tersenyum, aku hanya membalas senyumannya kemudian kembali menatap jalan dan rerintik hujan yang seakan memberi kode untuk tetap berteduh di halte itu. Beberapa menit berlalu dan masih saja belum ada angkot yang lewat, kulirik jam tanganku yang kini sudah menunjukkan pukul enam sore. “Waduh, pasti ayah marah”, batinku. Segera kuraba kantong celana jeansku dan kukeluarkan handphone yang hampir mati. Kucari kontak nama Ayah dan kupencel tombol dial.

 

Assalamualaikum”, sapa ayah dari telepon.

Waalaikumsalam. Ayah di sini masih hujan, trus nggak ada angkot yang lewat. Mungkin habis magrib atau isya Gita sampai di rumah”.

loh malam banget itu nak, kalau begitu Ayah suruh jemput sama kak Guna saja ya?”

loh? Kak Guna pulang ya? Kapan?”

“Iya tadi siang baru sampai rumah tapi langsung istirahat. Tunggu dua puluh menit, entar kak Guna yang jemput Gita”

“oh iya, kalau gitu Gita tunggu di halte dekat kampus ya. Assalamualaikum

 

“oke Waalaikumsalam”.

Hampir setengah jam aku berdiri di halte yang tak kunjung sunyi ini, tiba-tiba sebuah sedan hitam berhenti tepat di depanku. Orang yang berada di atas mobil itu kemudian menurunkan separuh kaca mobilnya dan berteriak kepadaku, “Hai non, masih betah berdiri disitu ya?”, aku tersenyum memperlihatkan semua gigi atasku dan segera naik ke mobil. “Mulai bandel ya sekarang, masih maba kok udah berani pulang magrib”, lanjutnya kemudian. “Enak aja, bukannya bandel tau, orang gak ada angkot kok. Kak Guna sih enak pake mobil, lah Gita?” jawabku membela diri, “hahaha kamu tuh ya, emang pinter cari alasan. Makanya jadi anak sulung kalau mau dikasih mobil. Dasar bontok hahaha”, kali ini tak kubalas ucapan kak Guna yang serasa makin menyudutkanku, kutatap ia dengan ujung mataku yang berhasil membuatnya berhenti tertawa walaupun sedikit terlihat menahan tawa.

 

Kak Guna adalah

Kakak dan saudaraku satu-satunya. Usia kami berjarak tiga tahun, aku yang kini masih maba dan ia yang kini mahasiswa yang sedang sibuk-sibuknya mengurus skripsi. Kak Guna adalah mahasiswa psikologi semester tujuh di Universitas Indonesia, dengan otak yang sangat encer, ia berhasil masuk ke UI dengan jalur bebas tes beberapa tahun yang lalu. Dan hal inilah yang membuat kak Guna harus tinggal terpisah dari kami. Di rumah sendiri hanya ada aku dan Ayah, Kak Guna sudah tiga tahun mengontrak rumah di Jakarta namun masih rutin balik ke rumah jika sedang tidak ada kuliah, sedangkan Bunda telah meninggalkan kami ke tempat yang sangat jauh dari kami, penyakit jantung yang merenggut nyawanya dua tahun yang lalu membuat keadaan rumah semakin senyap, dan hal inilah yang menjadi motivasiku kuliah di Kedokteran saat ini. Ya, karna Bunda! Karna waktu itu tak ada dokter yang berhasil menyelamatkan Bunda kami. Dan karna kepergiaan Bunda warna rumah kami menjadi sangat kelabu. Sampai saat ini Ayah pun masih belum beristri lagi, ia mengurusiku seorang diri, dan hal inilah yang membuatku begitu mencintai Ayah. Setahun yang lalu, ketika aku masih kelas tiga SMA, pernah aku bertanya pada beliau

 

“Yah, rumah sepi banget ya?”

“iya nak, nanti kalau kamu kuliah pasti bakalan tambah sepi deh

yaudah, Ayah cari istri aja, supaya ada yang nemenin. Istri yang baik kayak Bunda”

Ia tersenyum manis padaku dan perlahan membalas ucapanku, “Gita sayang, cari istri yang baiknya kayak Bunda itu tidak semudah cari satpam kompleks loh. Ayah masih sanggup kok dengan keadaan seperti ini, yang penting ada Gita dan Kak Guna itu sudah cukup buat Ayah. Lagian perempuan kayak Bunda itu cuma ada satu sayang, Bunda masih hidup kok di hati Ayah”, jawabnya yang masih dengan tersenyum. Kuperhatikan matanya yang mulai berkaca-kaca melihatku. Aku tahu betul bagaimana sakitnya hati Ayah ketika Bunda meninggal. Seumur-umur, hanya satu kali kulihat Ayah mengeluarkan air mata, yaitu ketika Bunda meninggal. Aku langsung memeluk Ayah, mengagumi kesetiaan dan ketabahan yang dimiliki oleh lelaki super itu.

Baca Juga :