Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah Lokal, Kritis Lokalitas dan Metodologi

Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah Lokal, Kritis Lokalitas dan Metodologi

Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah Lokal, Kritis Lokalitas dan Metodologi
Pengertian dan Ruang Lingkup Sejarah Lokal, Kritis Lokalitas dan Metodologi

Pengertian dan ruang lingkup sejarah lokal

Secara definitif Pierre Goubert menyebutkan bahwa sejarah lokal adalah sejarah yang terkait dengan ruang lingkup Geografis. Ia menyebutkan bahwa sejarah lokal adalah sejarah desa, beberapa desa, beberapa wilayah atau kota yang lebih besar dari sebuah propinsi. Maksud dari Goubert identik dengan gambaran lokalitas geografi eropa abad ke- 18. Masa itu masyarakat eropa mulai tumbuh terutama di inggris akibat dari revolusi Industri.pertumbuhan itu terus berkembang, selanjutnya menimbulkan mobilitas horizontal yang menakjubkan pada abad ke-19 ketika alat transportasi yakni kereta api di ciptakan. Dengan munculnya kereta api menjadikan jarak tempuh 10 km menjadi tidak telalu lama. Luas ruang lingkup mobilitas di ikuti oleh lusanya wilayah pengadilan, berkembangnya kebiasaan sosial ekonomi berupa aktivitas pasar serta perkembangan administrasi pemerintah.
Pada perkembangan lebih lanjut lahirnya struktur kota baru menimbulkan aktivitas lokal menjadi dinamis. Tingginya intensitas komunikasi menimbulkan identitas penduduk baik lapisan atas ataupun bawah yang sangat jelas. Perkembangan sejaral lokal di eropa sangat di untungkan oleh aktivitas intelektual yang selalu berkembang dengan teks-teks kuno Yunani dan Romawi. Teks-teks itu umumnya banyak memuat sejarah wilayah sehingga asal-usul keluarga mereka diketahui. Aktivitas intelektual ini bukanlah hal yang baru di eropa. Banyak tulisan tentang sejarah propinsi di eropa abad ke-16 yang umumnya mencatat daftar keluarga bangsawan,kastil, tanah pertanian, pendeta, piagam kota, hak istimewam dan lainnya. Banyak pendeta kuno di eropa sangat terlatih meneliti dokumen propinsi yang umumnya mencatat piagam kota, akta pemerintahan, dan tokoh terkenal. Jadi struktur dan dinamika kota terekam dalam sejarah wilayah. Demikian juga ruang lingkup sejarah lokal menjadi semakin jelas yaitu meliputi struktur sosial, aktivitas kota, kaum elit, komunitas, dan fasilitas kota.


Krisis Lokalitas

Krisis lokalitas bagaimanapun sejarah lokal mengalami perkembangan berarti pada abad ke-19, tetapi belum adanya alat analisis yang memadai dalam ilmu sejarah yang akhirnya sejarawan tidak mampu mengolah data lebih mendalam. Hal ini berdampak munculnya kelemahan pada kajian sejarah lokal pada abad ke-19 yang umumnya teletak pada bentuk tulisan monoton dan bersifat elistis. Dalam bentuk ini sejarah lokal hanya sekedar menafsirkan gambaran orang-orang besar seperti kaum bangsawan, tokoh politik, kelompok rohaniwan dan pimpinan militer dalam konteks geografi tertentu. Sejarah lokal semata-mata hanya dikaitkan dengan domain geografis, maka ia dapat dianggap kritis lokalitas tulisan yang demikian tidak akan mampu memahami fenomena-fenomena sosial abnormal seperti krisis pangan, pemberontakan, kejahatan dan kekerasan, maupu wabah penyakit. Upaya untuk menjelaska fenomena-fenomena tersebut diperlukan langkah metodologis.

Metodologi

Langkah metodologi adalah penerapan pendekatan dan analisis teoretis. Konsekuensi dari langkah ini adalah penggunaan ilmu bantu. Istilah metodologi hingga saat ini masih sering disamakan dengan metode. Jadi untuk itu istilah ini perlu dijelaskan secara lebih rinci. Sartono Kartodirdjo dengan jelas membedakan antara pengertian metode dengan metodologi. Menurutnya sebuah metode adalah how to know dari suatu ilmu, sedangkan metodologi adalah to know how to know.

Menurut Sartono suatu peristiwa harus diterangkan secara lebih jauh dan lebih mendalam. Sejarah yang sekedar menceriterakan bagaimana suatu peristiwa terjadi sebelum memberikan ekplanasi secara tuntas serta lengkap. Tulisan sejarah kritis tidaklah cukup menjawab pertanyaan apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana (4W+1H) tetapi juga harus bisa menjawab pertanyaan mengapa. Karena sejarah itu selalu menjawab pertanyaan why something happened, mengapa sesuatu terjadi. Berdasarkan alasan ini sangat beralasan mengapa dalam studi sejarah diperlukan metodologi sejarah.

Definisi metodologi secara rinci diutarakan juga oleh Kaplan. Dikatakan metodologi dalam arti sesungguhnya mempersoalkan bentuk atau logika studi ilmiah. Dengan demikian isu dan masalah metodologi  tidak terbatas pada disiplin saja melainkan dapat dilihat dalam konteks kelompok-kelompok disiplin terkait. Metodologi dalam ilmu sosial mungkin dapat mengarahkan perhatian ilmuwannya kepada hal-hal yang substantif yang diminati. (http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-editorial/)

Secara rinci berbeda dengan materi teori sejarah yang lebih menekankan perspektif teoretis tentang ilmu sejarah, materi metodologi menitik beratkan pada penggunaan pendekatan (appproach) dari disiplin tertentu (terutama Ilmu Sosial) dalam penulisan sejarah. Subtansi pendekatan ini adalah menekankan pola analisis konsep atau teori yang berasal dari disiplin ilmu tertentu untuk mengarahkan pada tema penulisan sejarah seperti sejarah sosial, ekonomi, kota, lokal, militer, politik, seni, biografi, intelektual, prosopografi,dan lainya. Dalam segi penerapan langkah metodologis adalah melakukan pendekatan, misal; melalui ilmu bantu sosiologi, politik, ekonomi, ataupun antropologi. Dari ilmu bantu digunakan konsep atau teori sebagai pisau analisis. Biasanya analisis yang digunakan adalah analisis tema. Dan dari hasil penelitian yang menggunakan analisis ini berupa deskripsi analisis. Artinya hasil penelitian yang berupa deskripsi analisis hanya dapat dicapai melalui penggunaan konsep atau teori.