Fosil Pada Tumbuhan Di Antaranya Sebagai Berikut

Fosil Pada Tumbuhan Di Antaranya Sebagai Berikut

Fosil Pada Tumbuhan Di Antaranya Sebagai Berikut
Fosil Pada Tumbuhan Di Antaranya Sebagai Berikut

Batu Bara

Batubara adalah bahan bakar fosil yang berasal dari sisa tumbuhan yang tertimbun kemudian terawetkan oleh air dan lumpur dari proses oksidasi dan pembusukan.
Lama-kelamaan sisa tumbuhan ini mengalami perubahan sifat fisik dan kimia akibat proses geologi yang berlangsung hingga jutaan tahun.
Batubara merupakan bahan bakar siap pakai -tidak memerlukan pengolahan lebih lanjut- berwarna hitam atau hitam kecoklatan.
Umumnya, batubara dikelompokkan sebagai batuan sedimen, namun batubara keras -jenis antrasit- akan dikelompokkan sebagai batuan metamorf karena telah bersulih akibat terpapar lebih lanjut oleh temperatur dan tekanan yang tinggi.
Kandungan utama batubara adalah karbon dan hidrogen dengan sedikit komposisi sulfur. Sedang metode penambangan bisa dilakukan di permukaan atau tambang bawah tanah.

Saat ini, batubara menjadi sumber bahan bakar utama

untuk pembangkit tenaga listrik, sekaligus menjadi penyumbang emisi karbon dioksida. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang jika terkumpul di atmosfer dapat menaikkan suhu bumi sekaligus perubahan iklim.
Batubara bisa dikelompokkan menjadi beberapa jenis, tergantung dari proses geologi yang telah dialami:
• Peat (gambut), merupakan jenis batubara tahap awal. Digunakan sebagai bahan bakar di beberapa negara terutama Irlandia dan Finlandia.
•  Lignite, disebut juga batubara coklat dan dianggap sebagai batubara peringkat terendah, digunakan sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik.
•   Sub-bituminous, kualitasnya berada diantara lignite dan bituminous. Digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap dan sebagai sumber hidrokarbon aromatik untuk industri kimia.
•   Bituminous, mineral padat berwarna hitam atau hitam kecoklatan, digunakan pula untuk pembangkit listrik tenaga uap.
•   Anthracite, merupakan batubara kualitas tertinggi, keras dan mengkilap. Digunakan antara lain untuk sumber pemanas ruangan komersial.
•  Graphite, secara teknis merupakan kualitas tertinggi, tapi karena sulit terbakar sehingga tidak digunakan sebagai bahan bakar. Grafit dimanfaatkan untuk bahan pembuat pensil atau sebagai salah satu bahan pelumas.
Penggunaan batubara di Inggris bisa dilacak sejak Jaman Perunggu (3000-2000 SM). Sedang di Cina, batubara sudah mulai dimanfaatkan sejak 4000 SM ketika manusia Neolitik mulai menggambar ornamen di gua menggunakan grafit. Baru sejak Dinasti Han batubara kemudian digunakan sebagai bahan bakar.
Lima negara dengan cadangan batubara terbesar adalah Amerika Serikat, Rusia, China, India, dan Australia. Sedang Indonesia menduduki peringkat 15 dengan kira-kira 0.5% cadangan dunia. Namun sebagai eksportir batubara, Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Australia.
Berbagai macam penelitian terus dilakukan untuk mengubah batubara menjadi sumber bahan bakar yang lebih ramah lingkungan antara lain dengan mengurangi kadar air dan menghilangkan polutan.

Fosil Tumbuhan

Moldowan dan koleganya mempelajari sedimen-sedimen berumur Permian yang mengandung sisa-sisa tumbuhan purba yang dikenal sebagai gigantopterids. Dalam lapisan sedimen yang sama pula ditemukan oleanane. Hal ini memperlihatkan bahwa gigantopterids pun memproduksi oleanane, layaknya tumbuhan moderan pada saat ini. Dari sini biolog David W. Teks Laporan Hasil Observasi

 

Taylor dari Indiana University

menyimpulkan bahwa tumbuh-tumbuhan berbunga telah ada jauh lebih awal. Penemuan ini cukup penting karena dalam waktu yang belum lama juga di daratan Cina ditemukan fosil gigantopterids yang lengkap dengan daun dan batangnya, yang sangat mirip jika dibandingkan dengan tumbuhan berbunga modern, lanjut Taylor. Taylor memperkirakan bahwa gigantopterids dan tumbuhan berbunga mulai berevolusi dari tumbuhan yang lebih tua secara bersama-sama semenjak 250 juta tahun yang lalu.
Kini penemuan ini sedang memasuki lapangan perdebatan ilmiah yang sesungguhnya. Namun di samping itu, Moldowan dan rekan-rekannya mencatatkan diri bahwa oleanane dapatlah dijadikan sebagai fosil kimiawi yang penting untuk mempelajari sejarah kehidupan di muka Bumi.